KAYA, MISKIN, SOLEH…DALAM PEMBAGIAN WARISAN

Ada sebagian masyarakat kita yang mengatakan: “saudaranya yang perempuan itu hidupnya miskin, kenapa gak dikasih banyak ya dari warisan ayahnya?”

Ada juga yang berkomentar: dia sudah kaya dan sukses…..tapi kenapa ya…kok justru dibagi warisan lebih banyak?

Ada juga yang berkata: “ sayalah yang mengurus ibu saat beliau sakit,…kenapa saya hanya dapat sedikit dari warisan ibu?”….

Seorang ayah yang sangat marah kepada seorang putranya berkata: kamu anak durhaka..! kamu tidak boleh mengambil bagian dari warisan saya.!

Seorang ibu yang sedang menunggu ajalnya berkata kepada anak yang mengurus dirinya dengan penuh perhatian: anakku sayang….kamu sangat perhatian dengan ibu, ibu ingin kamu mengambil bagian lebih banyak dari warisan ibu nantinya.

Seseorang berkata kepada ahli waris yang lain: jatah warisan saya tidak usah di hitung…saya sudah berkecukupan alhamdulillah.!
Fenomena di atas tentu sering kita jumpai dalam pembagian warisan keluarga.

Sangat perlu kita fahami bahwa pembagian warisan bukan pembagian zakat. Pembagian warisan tidak sama dengan santunan yatim dan du’afa. Pembagian warisan juga bukan memberi kompensasi atas suatu kerja.

Jika pembagian zakat telah diatur kriteria orang-orang yang menerimanya maka pembagian warisan juga demikian. Masing-masing punya aturan sendiri yang telah ditetapkan langsung oleh Allah swt.

Jika dalam pembagian warisan fakir dan miskin adalah standar untuk mendapatkan dana zakat maka standar itu tidak berlaku dalam pembagian warisan.
Ahli waris yang miskin dan yang kaya akan dipandang sederajat dalam pembagian warisan. Ahli waris yang baik dan durhaka akan dipandang sederajat dalam pembagian warisan.
Ahli waris yang berbakti kepada orang tua dan ahli waris yang tidak berbakti kepada orang tua juga akan dipandang sederajat dalam pembagian warisan.
Ahli waris yang berjasa terhadap si mayit dan ahli waris yang tidak punya jasa terhadap si mayit juga akan dipandang sederajat dalam pembagian warisan.
Sangat penting untuk kita fahami bahwa yang menjadi standar seseorang menjadi ahli waris atau tidak adalah hubungan pernasaban dan hubungan nikah yang sah dan masih terjaga. Sangat penting untuk kita fahami bahwa yang menjadi standar untuk mendapatkan jatah dan tidak dari harta warisan adalah dekat dan tidaknya posisi pernasaban yang dimiliki oleh masing-masing ahli waris.
Sangat penting juga untuk difahami bahwa yang menjadi standar untuk memperoleh jatah banyak dan sedikitnya dari harta warisan adalah posisi nasab dan jenis kelamin dari ahli waris yang ada.
Termasuk yang penting juga untuk kita fahami bahwa yang menjadi standar untuk menjadi ahli waris adalah kondisi hidup dan tidaknya seseorang.

Laki-laki akan mendapat lebih banyak dari wanita jika posisi nasabnya sama.
Istri akan mendapat lebih banyak warisan jika suami yang wafat tidak mempunyai anak.
Saudara atau saudari si mayit tidak akan mendapat harta warisan jika si mayit memiliki anak laki-laki.
Dengan demikian jelaslah bagi kita semua bahwa kaya, miskin, berjasa atau tidak, bergaul dekat atau tidak, punya hubugan emosionil atau tidak bukanlah standar dalam pembagian warisan dalam hokum waris islam sehingga hal-hal tersebut tidak perlu diungkap saat pembagian warisan dilaksanakan.

Semoga mencerahkan dan bermanfaat.!!

 

Oleh : Ustadz Ahmad Bisyri Syakur, MA

(Konsultan Zaid bin Tsabit Waris Center)

 

 Download versi PDF

===============================================================

Ingin tahu lebih detail tentang Ilmu Waris Islam / Faroidh? Kesempatan emas bagi yang mau belajar ilmu waris/faroidh, ikuti Pelatihan Motivasi Waris tgl 27 Januari 2018 di depok.

 

Info lebih lanjut hubungi

☎ 0896-5331-2998 / 0857-7931-1366

 

Zaid Bin Tsabit Waris Center adalah Lembaga Pelatihan & Konsultan Waris Islam.

Jasa dan Layanan kami meliputi :

▶ Pelatihan / Seminar / Ceramah Waris

▶ Konsultasi Waris

▶ Pemecahan dan Penghitungan Waris

▶ Paket Lengkap Penyelesaian Waris (ceramah, Konsultasi, Pemecahan & Penghitungan)

*

*

Top