KESEPAKATAN KELUARGA

Banyak orang menganggap bahwa kesepakatan dapat menjadi dasar hukum dalam islam. Jika kedua pihak telah bersepakat maka suatu pekerjaan dapat dibenarkan. Benarkah hal tersebut di dalam pandangan hukum islam??
Dalam pandangan hukum islam kesepakatan adalah suatu norma yang di hormati. Namun norma tersebut perlu ditempatkan dengan benar dan tidak bertabrakan dengan dalil dalil hukum islam yang ada.
Norma kesepakatan ini dapat menjadi dasar sebuah hukum islam pada urusan-urusan yang tidak ada penjelasan rincinya. Contoh: dalam jual beli sudah pasti terjadi tawar menawar antara penjual dan pembeli tentang harga sebuah barang. Maka kesepakatan keduanya menjadi dasar hukum halalnya jual beli tersebut karena harga barang tidak ada perinciannya dalam hukum jual beli islam.

Adapun tentang jenis barang yang dijual, jika ditemukan penjelasan hukum terkait suatu jenis maka penjelasan hukum itulah yang berlaku dan tidak berlaku kesepakatan. Contoh: khamar adalah jenis barang yang haram diperjual belikan oleh hukum islam. Maka khamar tidak bisa diperjual belikan walaupun penjual dan pembeli telah sepakat untuk melakukan transaksi.
Begitu juga dengan komoditas ribawi yang dirincikan dalam teks hadist nabi saw wajib ditransaksikan dengan aturan yang ditetapkan yaitu cash and cary dan kesamaan timbangan dan nilai jika keduanya dari jenis yang sama. Cincin emas yang ingin dijual dengan kalung emas harus dilakukan dengan timbangan yang sama dan dilakukan secara cash. Di sini tidak berlaku kesepakatan untuk menambahkan nilai tukar pada salah satunya. Begitu juga tidak berlaku kesepakatan untuk membayar secara tangguh dari salah satunya.

Dalam urusan kehidupan yang lain bisa kita lihat juga bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita tidak bisa dilakukan berdasarkan norma kesepakatan. Hubungan seks hanya di benarkan oleh syariat islam jika dilakukan dengan jalan pernikahan yang sah.

Dengan penjelasan di atas maka jelaslah bagi kita yang mau berfikir objektif bahwa kesepakatan dalam pembagian warisan adalah suatu pelanggaran hukum dan kemaksiatan karena pembagian warisan telah ada penjelasan rinciannya di dalam teks al-qur’an dan sunnah.
Tidak berlakunya kesepakatan dalam pembagian warisan seperti tidak berlakunya kesepakatan dalam hubungan seksual di luar nikah antara pria dan wanita.
Tidak berlakunya kesepakatan dalam pembagian warisan seperti tidak berlakunya kesepakatan dalam transaksi komoditas ribawi.

Tidak berlakunya kesepakatan dalam pembagian warisan seperti tidak berlakunya kesepakatan dalam transaksi khamar, babi dan bangkai.

Lakukanlah pembagian warisan keluarga anda dengan hukum allah swt yang telah ditetapkan di dalam al-qur’an dan sunnah dan jangan menggunakan tawaran-tawaran hukum lain di luar islam. Saat kita wafat maka kita hanya mempertanggung jawabkan perbuatan kita kepada Allah swt dan bukan kepada seorang presiden atau raja. Wallahu’alam.

 

Oleh : Ustadz Ahmad Bisyri Syakur, MA

(Konsultan Zaid bin Tsabit Waris Center)

*

*

Top